DASAR-DASAR MANAGEMENT
MANAGEMENT HOTEL
BY HARRO
![]()
Daftar isi
Kata pengantar 4
Daftar
isi 2
A.Pengantar/Pendahuluan
5.
Standar Kompetensi 5
Bab 1
Kompetensi Dasar 5.
Tujuan Mata Kuliah 6.
B.Definisi
Manajemen 6.
B.1. Manajemen Sebagai Suatu Proses 6.
B.1.2. Haiman 7.
B.1.3. Stoner 7.
B.1.4. Mary Parker Follet 7.
B.2. Manajemen Sebagai Suatu Kolektivitas 7.
B.3. Manajemen Sebagai Ilmu
dan Seni 7.
C.Sejarah
Perkembangan Ilmu Manajemen 7.
C.1.1. Frederich W. Taylor (1856-1915) 8.
C.1.2. Henry L. Gantt (1861-1919) 9.
C.1.3. Frank B dan Lilian M. Gilberth (1868-1924 /
1878-1972) 9.
C.1.4. Sumbangan-sumbangan dari Aliran Klasik…… 10.
C.1.5. Keterbatasan Aliran Klasik. 10.
C.2. Aliran Perilaku (Behaviaoral school) 10.
C.3. Aliran Ilmu Manajemen 11.
C.4. Pendekatan Sistem 11.
C.5. Pendekatan Kontingensi 12.
D.Tingkatan Manajemen1. Beberapa Tinjauan
Manajemen… 13.
E.1. Segi Sifat Kerja 13.
E.2. Segi Luasnya 13.
F.Sumber-Sumber Manajemen 15.
Bab 2
FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN 17.
A.Perencanaan (Planning) 17
A.1. Membuat Perencanaan 18.
A.2.1. Rasional 19.
B.Pengorganisasian
(Organizing 22.
B.1. Pengertian Organisasi 22.
B.5.1. Asas kesatuan komando (unity of commad)
23.
B.6. Tipe/Bentuk Organisasi 24.
B.6.3. Organisasi Lini dan Staf . 25.
B.7. Pembedaan Bentuk Organisasi 27.
B.9. Organisasi formal dan non formal 28.
C.Actuating
(Penggerakan.) 29.
D.Pengendalian/Pengawasan (Controlling) 32.
E.
Staffing 37.
Bab 3
MACAM-MACAM MANAJEMEN 41.
A.Manajemen Ilmiah (Scientific
management) 41.
B.Manajemen Sistematis 42.
C.Manajemen Terbuka (Open Management) 42.
D.Manajemen Demokratis 43.
E.Manajemen
tradisional. 43.
F. Manajemen Bapak. 44.
Bab 4 . 45.
K E P E M I M P I N A N. 45.
A.Arti dan Pentingnya Kepemimpinan. 45.
Standar Kompetensi 46.
A.2. Pentingnya Kepemimpinan .. 46.
B.Gaya-gaya Kepemimpinan . 46.
B.3. Otokratik 47.
B.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Gaya Kepemimpinan…… 48.
B.6.3.3 Ciri
Bawahan 48
C. M o t i v a s i. 49.
C.2.
Model-model Motivasi 50.
C.2.2. Model Hubungan Manusia 50.
Balai Pusaka. 52.
KATA
PENGANTAR
SYUKUR
ALHAMDULILLAH ATAS KURNIA ALLAH TELAH TERSUSUN BUKU DASAR-DASAR MANAGEMENT
UNTUK DAPAT MEMBANTU MAHASISIWA DALAM HAL MENGETAHUI ,ARTI MANAGEMENT,
SETELAH SELESAI MENGIKUTI PENDIDIKAN PARA LULUSAN DAPAT
MENGAMBIL MANFAAT TENTANG ARTI
MANAGEMENT ,ALIRAN ILMU MANAGEMENT ,TINGKATAN MANAGEMENT DAN TINJAUAN MANAGEMENT
SERTA SUMBER-SUMBER MANAGEMENT ,TAPI MASIH BANYAK KEKURANGANNYA MOHON KRITIK
SERTA SARAN BAGI PARA PEMBACA DAN PRATISI PERHOTELAN MAUPUN MANAGEMENT SEMOGA BUKU
INI DAPAT LEBIH SEMPURNA ,ATAS PERHATIAN DAN KERJA SAMANYA KAMI UCAPKAN TERIMA
BANYAK.
WASSALAM,
PENYUSUN.
ISTAN HARRO
BAB I
DASAR-DASAR MANAJEMEN
A. Pengantar
Ilmu manajemen bila dicermati sama
usianya dengan kehidupan manusia.
sebagai makluk sosial ada
kecenderungan untuk berorganisasi dan bekerja sama. Dalam kehidupan sehari-hari
manusia adalah anggota suatu organisasi , misalnya organisasi agama,olah raga,
seni, usaha dan orgnaisasi lainnya. Masing-masing orgnaisasi berbeda satu
dengan lainnya, ada yang formal dan tidak formal.
Namun organisasi-organisasi tersebut
mempunyai unsur-unsur yang sama, yaitu ada kelompok orang, ada tujuan yang
hendak dicapai, ada rencana cara pencapaian tujuan, ada pemimpin (manajer) yang
bertanggung jawab atas keberhasil pencapaian tujuan. Dengan kata lain para
manajer diberi tanggung jawab untuk menentukan kegiatan yang memungkinkan setiap
individu dapat memberikan sumbangan yang terbaik untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan
bersama.
Standar
Kompetensi
Mahasiswa
mengetahui memahami tentang : Arti manajemen, Sejarah perkembangan manajemen, Aliran ilmu manajemen, Tingkatan
manajemen, Beberpa tinjauan manajemen dan sumber-sumber manajemen.
Kompetensi
Dasar
Mahasiswa
mengetahui dan memahami serta mampu menjelaskan, Arti manajemen:
manajemen sebagai proses, manajemen
sebagai kolektivitas, manajemen sebagai ilmu dan seni. Mahasiswa mampu menjelaskan
sejarah perkembangan ilmu manajemen: Aliran klasik, Aliran perilaku, Aliran
ilmu manajemen, pendekatan sistem, pendekatan kontingensi. Mahasiswa mampu menjelaskan
tingkatan manajemen serta Mahasiswa
mampu melihat beberapa tinjauan tentang manajemen dan sumber-sumber manajemen.
Tujuan Mata Kuliah
Setelah selesai mengikuti pendidikan,
para lulusan dapat mengambil makna dan
dapat menerapkan serta membagi
pengetahuan tentang arti manajemen, aliran ilmu manajemen, tingkatan manajemen
dan tinjauan manajemen serta sumber-sumber manajemen.
Materi kuliah ini membahas cara manajer
memimpin organisasi untuk mencapai tujuan yang sebaik-baiknya. Pembahasan lebih
dipusatkan pada organisasi formal.
B.Definisi Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa Inggris
“management” dengan kata kerja to manage,yang
secara umum berarti mengurusi. Dalam arti khusus manajemen dipakai bagi
pimpinan dan kepemimpinan, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan memimpin,
disebut “manajer”.
Untuk mengartikan dan mendefisikan
manajemen dari berbagai literartur dapat dilihat dari tiga pengertian,
yaitu :
1. Manajemen sebagai suatu proses
2. Manajemen sebagai suatu
kolektivitas manusia
3. Manajemen sebagai ilmu dan
manajemen sebagai seni
B.1. Manajemen Sebagai Suatu Proses
Melihat bagaimana cara orang mencapai
suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Pengertian manajemen
sebagai suatu proses dapat dilihat menurut:
B.1.1. George R.Terry
Manajemen adalah cara pencapaian
tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu
melalui kegiatan orang lain.
B.1.2. Haiman
Manajemen adalah fungsi untuk
mencapai suatu tujuan melalui orang lain, mengawasi usaha-usaha yang dilakukan
individu untuk mencapai tujuan.
B.1.3. Stoner
Stoner mendefinisikan
manajemen sebagai suatu proses perencanaan,
pengorganisasian, memimpin dan
mengawasi usaha-usaha dari anggota organisasi dan sumber-sumber organisasi
lainnya untuk mancapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
B.1.4. Mary Parker Follet
Mendefinisikan manajemen sebagai
suatu seni untuk melakukan sesuatu melalui orang lain.
B.2. Manajemen Sebagai Suatu Kolektivitas
Yaitu merupakan suatu kumpulan
orang-orang yang bekerja sama untuk untuk
mencapai tujuan bersama. Kumpulan
orang-orang disini menunjukan adanya tingkatan kepemimpinan (pimpinan atas,
menengah dan bawah). Pendapat ini dikemukakan oleh Henry Fayol.
B.3. Manajemen Sebagai Ilmu dan Seni
Manajemen sebagai suatu ilmu karena
telah dipelajari sejak lama dan menjelaskan tentang gejala-gejala,
gejala-gejala diteliti dengan menggunakan metode ilmiah, yaitu menggunakan bantuan
disiplin ilmu lainnya seperti ilmu sosial, filsafat, matematik dan statistic dan
lain sebagainya.
Dalam praktek, istilah manajemen
dipakai dalam organisasi yang lebih besar dan berdiri sendiri dan dapat
dibedakan dengan jelas dari organisasi lain.
C.Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen
Di dalam ilmu manajemen dikenal tiga
aliran yang masing-masing berusaha membantu para manajer untuk
memahami dan memimpin perusahaannya serta mengatasi masalah masalah di dalam
perusahaan. Tiga aliran tersebut adalah :
C.1. Aliran Klasik (Classical school)
C.2.
Aliran Perilaku (Behaviaoral school)
C.3.
Aliran Ilmu Manajemen ( Management Science School)
Selain tiga aliran tersebut, dalam perkembangan
ilmu manajemen telah dikembangkan pula dua bentuk pendekatan yang berusaha
untuk menggabungkan ketiga aliran di atas,
pendekatan itu adalah :
C.4. Pendekatan Sistem (Sistem
Approach)
C.5. Pendekatan Kontingensi
(Contingency approach)
C.1. Aliran Klasik (Classical School)
Aliran ini dipelopori oleh Robert
Owen ((1771-1858) dan Charles Babbage (1792-1871).
Robert
Owen berpendapat bahwa dengan dipenuhinya
kebutuhan dan peningkatan kondisi pekerja (perumahan, jam kerja, koperasi, dan
sebagainya) dapat meningkatkan hasil produksi dan laba perusahaan. Unsur
pekerja merupakan salah satu unsur terpenting dalam proses produksi (vital
machines=mesin utama)
Charles Babbage berpendapat
bahwa penerapan prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja dapat meningkatkan
produktivitas dan dapat menekan biaya menjadi lebih rendah, yaitu dengan dialtih suatu
keterampilan tertentu dan harus bertanggung jawab terhadap bagian yang dikerjakannya
dengan keterampilan tersebut.
Tokoh-tokoh lain dalam aliran
klasik,antara lain :
C.1.1. Frederich W. Taylor (1856-1915)
Frederich W. Taylor adalah tokoh
peletak prinsip manajemen ilmiah, dengan percobaan gerak dan waktu. Dengan
efisiensi gerak dapat meningkatkan produktivitas, sehingga dapat ditentukan
standar minimal produksi atas dasar keahlian rata-rata pekerja. Dengan ditentukannya
standar minimal produksi dapat diterapkan sistem upah dengan bonus bagi pekerja
yang dapat melampaui standar minimal produksi, lebih jauh lagi dengan sistem
upah ini dapat memperbaiki metode kerja karyawan. Empat prinsip dasar teori Frederich
W. Taylor,
yaitu :
C.1.1.1.Dengan perkembangan manajemen
ilmiah dapat ditentukannya metode terbaik dalam menjalankan tugas;
C.1.1.2.Seleksi karyawan dengan cara
ilmiah, sehingga setiap karyawan dapat diberi tanggung jawab atas tugas yang
sesuai dengan keterampilannya;
C.1.1.3.Pengembangan dan pendidikan
karyawan dengan cara ilmiah;
C.1.1.4.Hubungan/kerjasama yang erat
antara manajemen dan karyawan.
C.1.2. Henry L. Gantt (1861-1919)
Henry L. Gantt memperkenalkan
system bagar (chart system), yang memuat jadwal kegiatan produksi
karyawan, disebut siatem Gantt Chart.
C.1.3. Frank B dan Lilian M.
Gilberth (1868-1924 / 1878-1972)
Pasangan ini bekerja sama mempelajari
aspek kelelahan dan gerak. Pengurangan gerak dapat menyebabkan pengurangan
kelelahan).
C.1.4. Sumbangan-sumbangan dari
Aliran Klasik
C.1.4.1.Metode-metode yag
dikembangkan dapat diterapkan pada berbagai kegiatan organisasi, selain di
organisasi industri.
C.1.4.2.Teknik-teknik efisiensi
(seperti studi gerak dan waktu), bahwa gerak fisik dan alat dapat lebih
diefisienkan.
C.1.4.3. Penekanan pada seleksi dan
pengembangan karyawan dengan cara ilmiah menunjukan pentingnya kemampuan dan faktor
pelatihan dalam meningkatkan efektivitas kerja seorang pekerja.
C.1.4.4.Manajemen ilmiah yang
menekankan pentingnya rancangan kerja mendorong manajer mencari cara terbaik
untuk pelaksanaan tugas.
C.1.4.5.Manajemen ilmiah tidak hanya
mengembangkan pendekatan rasional dalam memecahkan masalah, tetapi menunjukkan
jalan ke arah profesionalisasi dari manajemen.
C.1.5. Keterbatasan Aliran Klasik
C.1.5.1. Sering peningkatan produksi tidak disertai
dengan peningkatan pendapatan.
C.1.5.2.Hubungan manajemen dan
karyawan tetap jauh.
C.1.5.3.Manusia dipandang sebagai
sesuatu yang rasional bahwa manusia dapat dimotivasi dengan pemenuhan kebutuhan
ekonomi dan fisik, namun mengabaikan frustasi dan ketegangan yang dialami
karyawan apabila mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan sosial mereka serta
mengabaikan kepuasan karyawan atas hasil kerjanya.
C.2. Aliran Perilaku (Behaviaoral
school)
Aliran perilaku berkembang sebab
aliran klasik dipandang tidak benar-benar pembantu pencapaian efisiensi
produksi dan keserasian tempat keja. Oleh karena itu dicari upaya untuk membantu
manajer mengatasi masalah melalui sisi perilaku karyawan.
Tokoh-tokoh aliran perilaku :
C.2.1. Hugo Munsterberg (1863-1919),
sumbangan utamanya adalah penerapan psikologi karyawan dalam membantu
peningkatan produksi, melalui tuga cara, yaitu :1. Mendapatkan orang yang cocok. 2. menciptakan
kondisi kerja yang baik. 3. memotivasi karyawan.
C.2.2. Elton Mayo (1880-1949),
terkenal dengan ekperimen perilaku manusia dalam situasi kerja, disebut sebagai
Ekperimen Hawthorne. Ekperimen ini menghasilkan kesimpulan bahwa perhatian
khusus pada karyawan dapat meningkatkan usaha kerjanya, disebut Hawthorne effect.
Dari ekperimen ini diperoleh hasil
yaitu dari konsep manusia yang rasional bahwa manusia
yang hanya dapat dimotivasi dengan pemenuhan ekonomi, diganti dengan konsep pemenuhan
sosial melalui hubungan kerja.
C.3. Aliran Ilmu Manajemen
Aliran ini mengembangkan prosedur
penelitian operasional (operasional research+OR)
dalam menghadapi masalah organisasi.
Prosedur yang digunakan akan
dimulai dari analisis masalah
sampai dengan usulan kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut.
C.3.1. Beberapa sumbangan aliran ini
:
C.3.1.1. Prinsip aliran ini
diterapkan dalam pemecahan masalah pada organisasi besar.
C.3.1.2. Teknik-teknik manajemen
ilmiah digunakan
pada berbagai kegiatan, seperti
penyusunan anggaran, arus uang,
jadwal produksi, pengembangan produk, perencanaan tenaga kerja dan lain-lain.
C.3.1.3.Mencoba memecahkan masalah
dengan cara meninjaunya dari berbagai ilmu (interdisipliner).
C.3.1.4.Memecahkan masalah secara
matematis.
C.3.2. Keterbatasan Aliran ini :
C.3.2.1. Sumbangan aliran ini pada
manajemen hanya diterapkan pada kegiatan perencanaan dan pengawasan dan tidak
pada kegiatan lain seperti pengorganisasian dan kepemimpinan.
C.3.2.2. Walaupun teknik yang
digunakan cukup luas dalam mengatasi masalah manajemen,tetapi tidak cukup
efektif untuk masalah manusia dalam manajemen.
C.4. Pendekatan Sistem
Pendekatan system memandang
organisasi sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling
berhubungan satu sama lain.Dalam pendekatan ini manajer diajak untuk memandang
organisasi sebagai suatu kesatuan yang merupakan bagian dari lingkungan ekternal yang lebih luas.
Dalam sistem ini dijelaskan bahwa kegiatan setiap bagian dari organisasi akan
mempengaruhi kegiatan bagian lainnya.
C.4.1. Beberapa istilah dan sumbangan
yang digunakan dalam pendekatan sistem, yaitu :
C.4.1.1.Subsistem,
yaitu bagian-bagian yang membentuk keseluruhan sistem. Setiap sistem menjadi
subsistem dari kesatuan yang lebih besar.
C.4.1.2.Sinergi,
yaitu bagian-bagian terpisah dalam sebuah organisasi yang saling bekerja sama dan
berhubungan serta menghasilkan kerja yang lebih besar.
C.4.1.3.Sistem terbuka, yaitu
sistem yang berhubungan dengan lingkungan luar. Sistem tertutup, yaitu
sistem yang tidak berhubungan dengan lingkungan luar.
C.4.1.4.Arus, yaitu
perubahan seluruh masukan ( informasi, bahan dan enegi) yang berasal dari lingkungan melalui suatu
proses untuk menghasilkan keluaran (barang dan jasa).
C.4.1.5.Umpan balik, merupakan
kunci pengawasan terhadap sistem, dengan adanya umpan balik, maka dapat dilakukan perbaikan apabila
ada kesalahan dalam pelaksanaannya.
C.5. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan ini menggunakan
metode-metode yang efektif untuk mengatasi masalahmasalah dalam situasi tertentu yang tidak dapat
diterapkan dalam situasi lain. Tugas manajer adalah mengidentifikasi
teknik mana yang digunakan dalam situasi dan waktu yang tepat dalam membantu
pencapaian tujuan. Suatu langkah yang paling tepat untuk mengatasi masalah
dalam pendekatan kontingensi adalah bergantung pada situasi yang dihadapi oleh manajemen,
karena adalah suatu kenyataan bahwa situasi, aksi dan hasil adalah faktor yang saling
mempengaruhi dan saling tergantung satu sama lainnya.
D.Tingkatan Manajemen
Menurut tingkatannya manajemen
dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu :
D.1. Manajemen Puncak (Top
Management)
D.2. Manajemen Tengah (Middle
Management)
D.3. Manajemen Bawah (Low Management)
D.4. Beberapa Contoh :
D.4.1. Pada suatu departemen, maka
tingkatan manajemennya adalah :
Manajemen Puncak adalah : Menteri
Manajemen Tengah adalah : para
Direktur Jenderal
Manajemen Bawah adalah :para kepala
bagian/bidang, sub bagian/sub
bidang.
D.4.2. Pada suatu Kantor Balai
Besar/Eselon II, maka tingkatan manajemennya adalah :
Manajemen Puncak adalah : Kepala
Balai Besar
Manajemen Tengah adalah : para Kepala
Bagian/Kepala Bidang
Manajemen Bawah adalah :para Kepala
Sub Bagian/Bidang.
D.4.3. Pada suatu UPT/Eselon III,
maka tingkatan manajemennya adalah :
Manajemen Puncak adalah : Kepala UPT,
Direktur
Manajemen Tengah adalah : para Kepala
Sub Bagian
Manajemen Bawah adalah :para Kepala
Urusan.
E. Beberapa Tinjauan Manajemen
E.1. Segi Sifat Kerja
Dari sifat kerja manajemen dapat
digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :
E.1.1. Manajemen Administratif (MA)
Adalah manajemen atau pejabat
/pimpinan yang kerjanya menitik beratkan pada
pemikiran kerja (suatu pendekatan
dari pimpinan atas sampai ke tingkat paling bawah serta para pekerjanya). Dipelopori
oleh Henry Fayol.
E.1.2. Manajemen Operatif (MO)
Adalah manajemen atau pejabat
/pimpinan yang langsung memimpin kerja ke arah tercapainya kerja yang
nyata. Maksudnya adalah suatu pendekatan dari pimpinan atas sampai ke tingkat
paling bawah yang titik beratnya pada efisiensi dan produktivitas. Dipelopori
oleh F.W.Taylor.
E.1.3. Manajemen Administratif dan
Manajemen Operatif (MA/MO)
Adalah manajemen atau pejabat
/pimpinan yang dapat bertindak sebagai manajemen administrative dan manajemen
operatif (pejabat interpretor), yakni dapat menterjemahkan manajemen
administrative ke manajemen operatif dan sebaliknya.
Peranan pejabat ini sangat penting,
karena hasil karya manajemen administrasi yang bersifat garis-garis besar
(umum) dan berbentuk kebijakan (policy=bahasa pikir). Untuk memudahkan dalam pelaksanaan oleh pejabat
pelaksana dalam tugas interpretor diberikan
dalam bentuk kerja praktis (operasional).
Pembedaan MA dan MO dapat dilihat
dalam bagan di bawah ini :
MTA MA MO
MTM MA MO
MTB MA MO
Keterangan :
MTA : Manajemen Tingkat Atas
MTM : Manajemen Tingkat Menengah
MTB : Manajamen Tingkat Bawah
Gambaran kemampuan administrasi,
manajamen dan teknik operasional pada
tingkatan manajamen.
Tingkatan Manajemen Kemampuan
Administrasi/Manajemen
Kemampauan Teknik Operasional
Manajemen Tingkat Atas (MTA) (90-92)%
(8-10)%
Manajemen Tingkat Menengah (MTM) (70-85)%
(15-30)%
Manajemen Tingkat Bawah (MTB) (40-55)%
(45-60)%
Workman (Pelaksana) 5% 95%
MA = Manajemen Administratif
MO=Manajemen Operatif
E.2. Segi Luasnya
Dilihat dari segi luasnya atau ruang
lingkupnya, manajemen dapat di bagi menjadi :
E.2.1. Makro manajemen
Makro manajemen adalah manajemen
dengan ruang lingkup yang besar, pada
umumnya terdapat dalam bidang
kenegaraan dan perusahaan-perusahaan besar.
E.2.2. Mikro manajemen
Mikro manajemen adalah manajemen
dengan ruang lingkup yang kecil/sempit/khusus
(misalnya manajemen personalia,
pergudangan, financial, dan lain sebagainya).
F.Sumber-Sumber Manajemen (Management
Resources)
Tujuan pokok manajemen adalah untuk
memperoleh dayaguna (efisiensi) dalam kerja.
Untuk mendapatkan metode/teknik yang
bagaimana yang sebaik-baiknya dilakukan harus menggunakan sumber-sumber
(alat-alat/tool) yang ada dalam organisasi.
Dr.R. Markharita, ekpert PBB yang
diperbantukan pada Lembaga Administrasi Negara
(LAN/ 1977-1980) memberikan rincian
bahwa sumber-sumber manajemen terdiri atas :
F.1. Man : tenaga kerja manusia
F.2. Money :Uang, untuk biaya
keseluruhan kegiatan
F.3. Materials : bahan-bahan yang
diperlukan.
F.4. Metode : teknik/cara/sistem yang
digunakan
F.5. Machines : mesin-mesin yang
digunakan
F.6. Waktu : penjadwalan kegiatan
F.7. Prasarana : lahan/tanah, gedung,
alat angkut, listrik dan air, dan sebagainya
FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN
Fungsi manajemen adalah proses dari langkah-langkah
mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, staffing, memimpin
dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi.
Banyak pandangan-pandangan yang
berbeda dari para ahli mengenai rumusan rumusan fungsi-fungsi manajemen, di sini
penulis mengambil pandangan dari seorang ahli bernama George R. Terry. Dalam
bukunya “ Principles of management” George R. Terry merumuskan fungsi-fungsi
manajemen dengan singkatan POAC, yaitu :
A.Perencanaan (Planning)
B.Pengorganisasian (Organizing)
C.Penggerakan (Actuating)
D.Pengendalian/Pengawasan
(Controlling)
BAB II
Standar
Kompetensi
Mahasiswa
mengetahui dan memahami tentang: Fungsi-fungsi manajemen,
perencanaan, pengorganisasian,
penggerakan, dan pengawasan; serta Staffing
Kompetensi Dasar
Mahasiswa mengetahui dan memahami serta mampu
menjelaskan perencanaan:
cara menentukan perencanaan,
sifat-sifat perencanaan; mampu menjelaskan
pengorganisasian: pengertian organisasi, bentuk
organisasi, cirri-ciri organisasi;mampu menjelaskan arti dan peranan
penggerakan, factor-faktor penting dalam keberhasilan penggerakan: segi
organisasi, segi pimpinan, segi pegawai; mampu menjelaskan arti,maksud dan
tujuan pengawasan , macam-macam pengawasan, metode pengawasan,prinsip-prinsip
pengawasan
Tujuan Mata Kuliah
Setelah selesai mengikuti pendidikan,
para lulusan dapat mengambil makna dan
dapat menerapkan serta membagi
pengetahuan tentang Fungsi-fungsi manajemen,perencanaan, pengorganisasian,
Penggerakan, dan pengawasan; serta Staffing
Sebagai masukan dari penulis, penulis
menambahkan satu fungsi manajemen yang cukup penting yaitu Staffing, sehingga
pokok bahasan menjadi POAC + S (Staffing)
A.Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sesuatu yang akan
direncanakan tentang apa yang akan dicapai,yang kemudian memberkan pedoman,
garis-garis besar tentang apa yang akan dituju.Perencanaan merupakan
persiapan-persiapan untuk pelaksanaan suatu tujuan, berupa rumusan-rumusan
tentang “apa” dan “bagaimana “ suatu pekerjaan dapat dilaksanakan.
Persiapan-persiapan tesebut dapat
berupa tindakan-tindakan administrasi atas tindakan tindakan selanjutnya.
Perencanaan tidak harus dalam bentuk tulisan tetapi mungking hanya dalam
pemikiran (benak), terutama untuk hal yang bersifat pribadi dan rahasia
(misalnya rencana operasi lokasi perjudian, pelacuran, sarang narkoba dan
lain-lainnya).
Dalam sistem pembangunan di
Indonesia, tugas perencanaan dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Nasional
(Bapenas), yang merupakan himpunan dari perencanaan sektor pemerintah yang
paling kecil.
Setiap organisasi biasanya selalu
membuat perencanaan untuk lancarnya perputaran roda organisasi. Demikan hal
dengan individu, hendaknya membiasakan diri untuk membuat/menentukan rencana
agar aktivitas jelas dan terarah.
A.1. Membuat Perencanaan .
Untuk membuat suatu perencanaan yang
baik, ada dua pertanyaan yang harus dijawab,
yaitu “ Apa dan Bagaimana “ ( What
and How). Pertanyaan “what” menunjukkan maksud dari pembuatan perencanaan,
tegasnya menjawab tentang tujuan apa yang hendak dicapai. Kalau sudah terjawab
maka dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan “How”, yaitu bagaimana cara terbaik
yang digunakan demi tercapainya tujuan. Jawaban pertanayaan “how” dapat merupakan
cara, metode/sistem serta teknik-teknik yang digunakan.
Persoalan perencanaan belum selesai,
karena harus berhadapan dengan pertanyaan :
Why, Where, When dan Who.
Pertanyaan why menunjukkan
mengapa atau apa sebabnya perencanaan dibuat,
pertanyaan where menunjukkan
dimana kegiatan akan dilaksanakan, pertanyaan when kapan rencana
tersebut akan dilaksanakan dan pertanyaan who yang menunjukkan siapa
yang akanmelaksanakan.
Contoh :
Misalnya, kantor APARTA pada tahun akademik 2009, akan
menyelenggarakan
penerimaan mahasiswa baru untuk dua jurusan, yaitu jurusan M.Perhotelan, jurusan Pariwisata total 100
mahasiswa baru.
1. Apa tujuannya ?, jawabnya adalah
untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli
Perhotelan/Pariwisata.
2. Bagaimana caranya pelaksanaannya?,
jawabnya adalah melalui tahapan-tahapan sistem penerimaan calon mahasiswa baru ( Sipencamaba).
3. Dimana pelaksanaannya? jawabnya
adalah di kantor APARTA
4. Kapan dimulai pelaksanaannya?,
jawabnya misalnya mulai bulan April 2009.
5. Siapa yang melaksanakannya ?,
jawabnya adalah panitia sipencamaba
Kemudian dari tahapan-tahapan seleksi
dibuat lagi perencanaannya:
a. Apa tujuan seleksi administrasi,
akademik, kesehatan dan wawancara ?
b. Bagaimana pelaksanaan tahapan
masing-masing ?
c. Dimana pelaksanaan tahapan-tahapan
tersebut ?
d. Kapan pelaksanaan tahapan-tahapan
tersebut ?
e. Siapa yang melaksanakan
tahapan-tahapan tersebut ?
A.2. Sifat Perencanaan
Suatu perencanaan yang baik harus
bersifat :
A.2.1. Rasional
Perencanaan bersifat rasional artinya
perencanaan dibuat berdasarkan pemikiran pemikiran dan perhitungan yang matang,
sehingga dapat dibahas secara logis.
A.2.2. Perencanaan bersifat lentur
Perencanaan bersifat lentur artinya
perencanaan tersebut bersifat luwes, dapat
dilaksanakan dimanapun, kapanpun dan
oleh siapapun (tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi)
A.2.3. Perencanaan harus bersifat
kontinyu
Perencanaan bersifat kontinyu artinya
perencanaan harus terus menerus dibuat dan perlu ditinjau kembali guna
perbaikan-perbaikan pada pelaksanaan waktu berikutnya dan disesuaikan dengan
perkembangan situasi dan kondisi masyarakat, pemerintah dan negara.
A.3. Kegagalan Perencanaan :
Kegagalan perencanaan dapat
disebabkan oleh beberapa faktor,antara lain :
A.3.1. Perencanaan tidak matang
Perencanaan tidak matang karena tidak
mempunyai pandangan jauh ke depan, kurang pengalaman, tidak rasional.
A.3.2. Wewenang yang tidak
jelas/tegas
Instruksi yang diberikan oleh
pimpinan kepada para pelaksana tidak jelas atau tidak tegas sehinggah terjadi
tumpang tindih disana sini.
A.3.3. Anggaran kurang
Hal ini adalah hal yang logis, karena
banyak kemungkinan terjadinya kurang anggaran,misalnya pengaruh-pengaruh
ekonomi global, perubahan kebijakan pimpinan/pemerintah,perubahan-perubahan
dalam pelaksanaan karena keadaan tidak terduga.
A.3.4. Pelaksanaan kurang baik
Perencanaan yang baik tidak menjamin
hasilnya juga baik, karena sangat tergantung pada baik buruknya pada
pelaksanaannya.
A.3.5. Tidak ada dukungan moral dari
masyarakat
Dukungan atau resfon masyarakat cukup
mempengarahui berhasil tidaknya suatu perencanaan. Tidak adanya partisipasi
aktif dari masyarakat dapat membuat gagal suatu perencanaan.
A.4. Pandangan-pandangan Para Ahli
Mengenai Fungsi Manajemen
Sedangkan pandangan-pandangan dari
para ahli lainnya mengenai fungsi manajemen,antara lain :
A.4.1. Henry Fayol membagi dalam 4 katogori yaitu :
1. Planning
(Perencanaan)
2. Organizing
(Pengorganisasian)
3. Commanding (
Perintah)
4. Coordinating (
Koordinasi)
A.4.2. Luther Gulick dalam 7 bagian
1. Planning
(Perencanaan)
2.
Organizing (Pengorganisasian)
3. Staffing
4. Directing
5. Coordinating
6. Reporting
7. Budgeting
A.4.3. Koontz O’Donnel mengkelompokkan menjadi 5 bagian:
1. Planning
(Perencanaan)
2. Organizing
(Pengorganisasian)
3. Staffing
4. Directing
5. Controlling
A.4.4 Dr.Sondang .P. Siagian
1. Planning (Perencanaan)
2. Organizing (Pengorganisasian)
3. Motivating
.4. Controlling
5. Evaluating
B.Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah penetapan
struktur peran-peran melalui penentuan aktivitas-aktivitas,pengelompokan aktivitas, penugasan kelompok
aktivitas, pendelegasian wewenang,pengkoordinasian hubungan antar wewenang
serta informasi baik secara vertikal maupun horizontal, yang dibutuhkan
organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
Agar peran organisasi ada dan berarti
bagi orang-orang, peran-peran itu harus
mencakup :
a. Tujuan yang dapat direalisasikan.
b. Konsep dan batas kewajiban yang
jelas.
c. Kebijakan-kebijakan yang dapat
dimengerti dan dapat dilaksanakan.
d. Ketersediaan informasi yang
diperlukan, alat-alat dan sumber-sumber yang penting.
B.1. Pengertian Organisasi
Pengertian organisasi dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu:
B.1.1. Organisasi sebagai alat
manajemen
Organisasi sebagai alat manajemen
adalah organisasi sebagai wadah/tempat
manajemen sehingga memberikan bentuk
bagi manajemen yang memungkinkan manajemen dapat bergerak. Organisasi sebagai
alat organisasi dalam arti statis (tetap/tidak bergerak).
B.1.2. Organisasi sebagai fungsi
manajemen
Organisasi sebagai fungsi adalah
organisasi dalam arti dinamis, yaitu organisasi yang memberikan memungkingkan
tempat manajemen dapat bergerak dalam batas-batas tertentu Selain itu
organisasi masih mempunyai pengertian yaitu organisasi sebagai :
B.1.2.1. “a group of people”,
yaitu kelompok orang-orang yang membentuk kelompok tertentu yang bekerjasama
untuk melaksanakan suatu usaha/kegiatan.
B.1.2.2. “a system of authority”,
yaitu organisasi sebagai sistem wewenang yang memberikan kekuasaan bagi setiap
pejabat dalam melaksanakan tugasnya.
B.1.2.3. “a system of function”,
yaitu sebagai sistem distribusi tugas sehinggaa masing-masing pejabat memegang
tugas tertentu.
B.2. Timbulnya Organisasi
Organisasi timbul apabila ada dua
orang atau lebih yang bersama-sama menjalankan pekerjaan untuk kepentingan
bersama.
B.3. Dasar Organisasi
Yang menjadi dasar organisasi adalah
penakanan pada tugas-tugas yang ada pada organisasi tersebut, kemudian baru
menentukan orang-orang yang tepat untuk menjalankan tugas-tugas yang ada dalam
organisasi tersebut.
B.4. Unsur-Unsur Organisasi
B.4.1. Himpunan orang-orang
B.4.2. Bekerja sama
B.4.3. Pencapaian tujuan bersama
B.5. Hubungan Organisasi dan
Manajemen
Organisasi adalah wadah dari
manajemen yang saling mempengaruhi. Kalau organisasi baik tetapi manajemen
tidak baik, maka organisasi tidak dapat bergerak, demikan sebaliknya.
Dalam rangka membentuk organisasi
yang baik perlu diketahui dan diperhatikan asas asas terdapat dalam organisasi,
yaitu :
B.5.1. Asas kesatuan komando (unity
of commad)
Dalam suatu organisasi ada suatu asas
dimana tiap-tiap pegawai hanya mempunyai satu pimpinan (pimpinan tunggal),
dimaksudkan agar tugas-tugas yang diberikan dapat dilaksanakan dengan dan
karena hanya berasal dari pimpinannya.
B.5.2. Span of control
Dengan span of control dimaksudkan
untuk memberi batas kemampuan seorang
pimpinan untuk dapat mengatur dan
mengawasi bawahannya. Kemampuan tiap-tiap pimpinan berbeda satu sama lain, ada
yang mampu hanya 5 pegawai, ada yang 10 pegawai atau 15.
Dari hasil penelitian di Amerika
Serikat yang paling efektif seorang pimpinan sebanyak banyaknya mengawasi 8
pegawai.
Perbedaan kemampuan tersebut
berdasarkan beberapa faktor, antara lain, perbedaan pengalaman, perbedaan
pendidikan, perbedaan kecakapan dan perbedaan usia.
B.5.3. Pembagian kerja secara homogen
Bermacam tugas dalam organisasi harus
dibagi-bagi sedemikain rupa dan ditugaskan
pada orang-orang tertentu, tetapi tetap merupakan satu kesatuan yang
homogen dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
B.5.4. Delagasi wewenang yang diikuti
dengan tanggung jawab.
Untuk berhasilnya suatu organisasi
tergantung pada sejauh mana seorang pimpinan mendelegasikan wewenang, yang
tentunya disertai dengan delegasi tanggung jawab. Delegasi diberikan karena
pimpinan sudah memberikan kepercayaan penuh kepada yang didelegasikan.
B.6. Tipe/Bentuk Organisasi
Tipe/bentuk organisasi pada umumnya
berbentuk:
B.6.1. Organisasi Lini (line)/Garis
Organisasi berbentuk lini /garis
adalah suatu bentuk organisasi di mana
kepala/pemimpin (Chief Executive)
dipandang sebagai satu-satunya sumber wewenang, dimana semua
keputusan/kebijasanaan dan tanggung jawab ada pada satu tangan (maksudnya kepala/pimpinan
puncak).
B.6.1.1. Ciri-ciri organisasi
lini/garis
Ciri-ciri organisasi lini/garis
adalah dimana pimpinan organisasi tunggal, garis komando ke bawah jelas dan
kuat.
B.6.1.2. Kebaikan :
Kebaikan dari organisasi lini/garis
adalah :
B.6.1.2.1. Asas kesatuan komando
tampak menonjol
B.6.1.2.2.Dapat menjamin kedisiplinan
B.6.1.2.3.Koordinasi relatif mudah
dilaksanakan
B.6.1.2.4.Pengawasan kepada bawahan
mudah dilaksanakan
B.6.1.3. Keburukan :
Keburukan dari organisasi lini.garis
adalah :
B.6.1.3.1. Perluasan organisasi
berarti penambahan beban dan tanggung jawab dan dapat melampuai span of control
B.6.1.3.2. Anggota organisasi
(bawahan) tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Gambar Organisasi Lini/Garis
B.6.2. Organisasi Staf
(Staff)/Bantuan
Organisasi staf adalah suatu bentuk
organisasi yang hanya mempunyai hubungan dengan pucuk pimpinan dan fungsi
memberi bantuan, baik berupa pemikiran maupun hal-hal lainnya, untuk kelancaran
tugas pimpinan.
Skema Organisasi Staf Pimpinan
Garis Komando
Pimpinan
Staf Staf Staf
B.6.3. Organisasi Lini dan Staf
Merupakan kombinasi bentuk lini dan
bentuk staf.
Skema Organisasi Lini dan Staf
B.6.3.1. Ciri-ciri organisasi lini
dan staf
Pimpinan dibantu oleh staf dan ada
kesatuan komando. Staf mempunyai wewenang fungsional dan memberikan
advis/petunjuk. Kepala mempunyai wewenang komando.
B.6.3.2. Kebaikan
B.6.3.2.1.Disiplin dapat dipegang
teguh
B.6.3.2.2.Keahlian/spesialisasi dalam
tugas masing-masing staf dapat dipertahankan dan dikembangkan.
B.6.3.3. Keburukan
Dalam bentuk lini dan staf , sering
terjadi pertengkaran antara pejabat lini dan staf sehingga sering menghambat jalannya
organisasi.
B.6.4. Organisasi Fungsional
B.6.4.1. Ciri-ciri :
Bawahan mendapat perintah dari beberapa
pejabat yang masing-masing menguasai suatu keahlian tertentu dan bertanggung
jawab sepenuhnya atas bidangnya. Pada bentuk ini pimpinan mempercayakan
sepenuhnya kepada para ahli dalam bidang masing-masing.Pimpinan Staf Lini Lini
Skema Organisasi Fungsional
B.6.4.2. Kebaikan
Kebaikan dari organisasi fungsional
adalah :
B.6.4.2.1.Bidang pekerjaan khusus
diduduki seseorang yang ahli yang memungkinkan bekerja atas dasar keahlian dan
kecintaannya pada tugasnya.
B.6.4.2.2.Tanggung jawab atas
fungsinya terjamin.
B.6.4.3. Keburukan :
Keburukan dari organisasi fungsional
adalah :
B.6.4.3.1.Koordinasi sulit
dilaksanakan
B.6.4.3.2.Dapat menimbulkan
dispersonalisasi
B.6.4.3.3.Keahlian memimpin kurang
dapat jaminan
B.6.4.3.4.Asas kesatuan komando sulit
dilaksanakan.
B.7. Pembedaan Bentuk Organisasi
Menurut Drs. The Liang Gie dalam
bukunya “ Organisasi dan Administrasi Kantor Modern”,
menyebutkan bahwa bentuk-bentuk organisasi dapat dibedakan menurut dalam beberapa
hal sebagai berikut :
Pemimpin Proyek
Pimpinan
Peneliti
B.7.1. Jumlah orang yang memimpin
B.7.1.1. Bentuk tunggal, dimana
organisasi dipimpin oleh seorang tunggal.
B.7.1.2. Bentuk Komisi, dimana
organisasi dipimpin oleh lebih dari satu orang.
B.7.2. Dilihat dari lalu lintas
wewenang dan tanggung jawab serta hubungan kerja pada kesatuan dalam
organisasi, dua bentuk di atas dapat dibedakan sebagai berikut :
B.7.2.1. Bentuk lurus
B.7.2.2. Bentuk fungsional
B.7.2.3. Bantuk lurus dan fungsional.
B.8. Bagan Organisasi
Hendry G. Hadges mengemukakan 4
bentuk bagan organisasi menurut wujudnya,yaitu :
B.8.1. Bentuk piramida
B.8.2. Bentuk horizontal
B.8.3. Bentuk vertikal
B.8.4. Bentuk lingkaran
B.8.5. Bentuk lukisan-lukisan
Masing-masing bagan kecuali bagan
lukisan, dapat dibedakan menurut isinya, yaitu bagan structural, bagan
fungsional, bagan jabatan, bagan nama.
B.9. Organisasi formal dan non formal
Seorang ahli bernama Barnard dan
dari penemuan ekperimen Hawthorne, organisasi dapat dibedakan menjadi
organisasi formal dan non formal.
B.9.1. Organisasi formal
Menurut Barnard adalah apabila
aktivitas orang-orang
lebih dikordinasi secara sadar menuju tujuan tertentu. Organisasi dikatakan
formal apabila :
B.9.1.1.Dapat berkordinasi satu sama
lainnya
B.9.1.2.Bersedia untuk bertindak
B.9.1.3.Bersama-sama mempunyai suatu
tujan
B.9.2. Organisasi non formal
Organisasi non formal adalah setiap
gabungan aktivitas pribadi tanpa tujuan untuk bergabung secara sadar, meskipun
dapat memberikan hasil bagi gabungan tersebut. (misalnya para penumpang
pesawat, aktivitas dipasar, penonton bioskop, dan sebagainya).
B.10. Pembagian Pekerjaan Dalam
Organisasi
B.10.1. Pembagian pekerjaan antara
pekerjaan pimpinan dan pekerjaan bawahan.
B.10.2. Pembagian pekerjaan antara
pekerjaan staf dan lini.
B.10.3. Pembagian pekerjaan menurut
bagaimana organisasi itu disusun, digunakan 5 prinsip,yaitu :
B.10.3.1.Pembagian pekerjaan menurut
fungsi (berdasarkan tugas pokok).
B.10.3.2.Pembagian pekerjaan menurut
produksi (barang dan jasa)
B.10.3.3.Pembagian pekerjaan menurut
wilayah, dipergunakan bila suatu usaha melayani suatu wilayah geografis yang
mempunyai cirri tertentu.
B.10.3.4.Pembagian pekerjaan menurut
proses
B.10.3.5.Pembagian pekerjaan menurut
rekanan (client), dipergunakan bila suatu usaha mempunyai golongan rekanan yang
masing-masingmempunyai syarat-syarat tersendiri atau pelayanan yang khusus.
C.Actuating (Penggerakan)
C.1. Pengertian dan Peranan
Penggerakan adalah suatu fungsi
pembimbingan dan pemberian pimpinan serta
penggerakan orang-orang agar
orang-orang tersebut mau dan suka bekerja. Berdasarkan
pengertian tersebut jelaslah bahwa
peranan penggerakan (actuating) sangat penting, karena penggerakan berfungsi
untuk menggerakan fungsi-fungsi manajemen yang lain, seperti perencanaan,
pengorganisasian, pengawasan.
Menggerakan orang-orang agar mau dan
suka bekerja mempunyai arti bagimana menjadikan para pegawai sadar akan tugas
dan kewajiban serta bertanggung jawab atas tugas yang dibebankan kepadanya tanpa
menunggu perintah dari siapapun.
C.2. Faktor-faktor penting dalam
keberhasilan penggerakan
Fungsi penggerakan tidak sekedar
pekerjaan mekanis (mesin, elektronik) karena
manusia bukanlah robot, oleh
karenanya diperlukan faktor-faktor pendukung, seperti :
C.2.1. Segi Organisasi
C.2.1.1. Terdapat peraturan-peraturan
Maksudnya adalah adanya
ketentuan-ketentuan yang memberi kemungkinan adanya kepastian perkembangan
organisasi baik ke dalam maupun ke luar.
C.2.1.2. Terdapat fasilitas-fasilitas
Maksudnya adalah fasilitas-fasilitas
perangkat lunak atau perangkat keras yang
diperlukan untuk gerak organisasi yang
didasarkan atas pengkajian yang dapat dipertanggung jawabkan untuk memenuhi
aspek kuantitas dan kualitas.
C.2.1.3.Terdapat sarana komunikasi
yang memadai
Sarana komunikasi yang memadai adalah
segala sesuatu yang digunakan untuk
menyampaikan dan menerima informasi,
misalnya telepon, internet, mimbar, publikasi, journal dan sebagainya.
C.2.1.4. Terdapat kader-kader
pemimpin
Terdapat kader-kader pimimpin artinya
bahwa untuk mendapatkan pimpinan yang jelas dan tegas ruang lingkup
kepemimpinannya perlu dipertimbangkan dari dalam organisasi untuk memotivasi
gerak organisasi kearah yang sesyai tujuan organisasi.
C.2.2. Segi Pemimpin
C.2.2.1. Wewenang
Wewenang maksudnya adalah pemimpin
harus memahami akan tugas dan wewenang yang diembannya (delegation of authority)
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
C.2.2.1.1.Antara tugas dan wewenang
harus memperhatikan hukum keseimbangan ( equilibrium).
C.2.2.1.2.Tidak menyalah gunakan
wewenang.
C.2.2.1.3.Wewenang harus
dipertanggungjawabkan pada jalur organisasi tertentu.
C.2.2.1.4.Pembatasan waktu memegang
jabatan memimpin, untuk menghindari teori absolutisme kekuasaan.
C.2.2.2.Memiliki kelebihan-kelebihan
Maksudnya adalah suatu keadaan
tertentu yang dimiliki seseorang dan tidak terdapat pada orang lain, kelebihan
tersebut antara lain :
C.2.2.2.1.Kelebihan dalam pikiran dan
rasio
C.2.2.2.2.Kelebihan dalam fisik dan
rohaniah.
C.2.2.3.Memiliki sifat-sifat
kepemimpinan
Menurut Ord Way Tead dalam bukunya “
The Art of Leadership”, menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki pemimpin
adalah :
C.2.2.3.1.Energi jasmani dan rokhani
(physical and nerveus energy)
C.2.2.3.2.Semangat untuk mencapai
tujuan (a sence of purpose an direction)
C.2.2.3.3.Ramah dan penuh perasaan (
frend lyness and effection)
C.2.2.3.4.Integritas (integrity)
C.2.2.3.5.Kecakapan teknis (
technical skill)
C.2.2.3.6.Mudah mengambil keputusan
(decisive ness)
C.2.2.3.7.Cerdas (intelligence)
C.2.2.3.8.Kecakapan mengajar
(teaching skill)
C.2.2.3.9.Keyakinan (faith).
C.2.2.4.Memahami teknik-teknik kepemimpinan
Teknik-teknik kepemimpinan
dimaksudkan suatu cara atau metode yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan
penggerakan sehingga pekerja melakukan pekerjaan dengan sebaik baiknya. Teknik
kepemimpinan dapat digolongkan dalam 2 golongan, yaitu :
C.2.2.4.1.Teknik kepemimpinan
pokok, yaitu teknik-teknik dasar pokok yang dapat digunakan untuk berbagai
macam kepemimpinan, antara lain :
C.2.2.4.2.Teknik menyiapkan
orang-orang supaya bersedia menjadi pengikut.
C.2.2.4.3.Teknik human relation
C.2.2.4.3.Teknik untuk menjadi
teladan.
C.2.2.4.4.Teknik kepemimpinan
khusus adalah teknik kepemimpinan untuk menggerakan orang-orang agar supaya
suka dan dapat bekerja, tediri atas :
C.2.2.4.4.1.Teknik persuasif dalam
memberikan perintah.
C.2.2.4.4.2.Teknik menggunakan sistem
komunikasi yang cocok.
C.2.2.4.4.3.Teknik memberikan
fasilitas-fasilitas.
C.2.1. Segi Pegawai
Pegawai yang akan digerakkan harus
mempunyai kemampuan untuk menerima dan memahami apa yang diberikan pimpinan
baik petunjuk, bimbingan ataupun perintah,kemampuan itu antara lain :
C.2.1.1. Memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang memadai
Pengetahuan dan keterampilan mutlak
harus dipunyai oleh pegawai, terutama yang berkaitan dengan organisasi tempat
bekerja.
C.2.1.2. Memiliki pandangan bahwa
pengabdian adalah untuk organisasi, masyarakat dan negara bukan kepada
pimpinan.
Ada kemungkinan bahwa pegawai baru
mau bekerja bila diawasi oleh pimpinannya,bila pimpinan tidak ada maka pegawai
akan malas-malasan. Ada juga pegawai yang baru bekerja bila ada perintah dari
pimpinan, bila tidak ada perintah sama sekali tida ada inisiatif untuk bekerja.
C.2.1.3. Mau dipimpim,
maksudnya adalah pegawai mempunyai rasa kesadaran, rasional dan terarah pada
pengabdian yang seluas-luasnya, dan bukan karena terpaksa. Hal ini juga penting
bagi pemimpin, bahwa kepemimpinan bukan diarahkan untuk menguasai pegawai,
tetapi pegawai tetap dibimbing sampai ke tingkat kesadaran tanggung jawab yang
diinginkan.
C.2.1.4. Terpeliharanya tim kerja, maksudnya
bahwa untuk berhasilnya fungsi penggerakan harus tetap terpeliharanya
kekompakan tim kerja, tim kerja harus kokoh dan kuat baik kualitas maupun
kuantitas ataupun baik fisik maupun batiniah. Kesamaan pandangan tentang organisasi
akan tetap terpeliharanya tim kerja.
D.Pengendalian/Pengawasan (Controlling)
D.1. Arti, Maksud dan Tujuan
Pengawasan
D.1.1. Arti Pengawasan
Mc. Farland memberikan
definisi, pengawasan adalah suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui
apakah hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan sesuai dengan
rencana, perintah, tujuan atau kebijakan yang telah ditentukan.Menurut Mc.
Farland pengawasan harus berpedoman pada hal-hal sebagai berikut :
D.1.1.1. Rencana yang telah
ditentukan
D.1.1.2. Perintah terhadap
pelaksanaan pekerjaan
D.1.1.3. Tujuan
D.1.1.4. Kebijakan-kebijakan.
Gambar 5. Ilustrasi Alur pemikiran
Proses Pengawasan
D.2. Maksud Pengawasan
Pengawasan dimaksudkan untuk mencegah
atau memperbaiki kesalahan,
penyimpangan, ketidak sesuaian dan
lain-lainnya yang tidak sesuai dengan tugas dan wewenang yang telah ditentukan.
Jadi pengawasan bukan mencari kesalahan terhadap orangnya, tetapi mencari
kebenaran terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan.
D.3. Tujuan Pengawasan
Tujuan pengawasan adalah agar hasil
pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara
berhasil guna (efektif) dan berdaya
guna (efisien) sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
D.4. Tugas/Fungsi Pengawasan
D.4.1. Mempertebal rasa dan tanggung
jawab terhadap yang diserahi tugas dan wewenang dan pelaksanaanpekerjaan.
Perencanaan
Pelaksanaan
Pekerjaan Pengawasan
D.4.2. Mendidik para pejabat/pimpinan
agar dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.
D.4.3. Untuk mencegah terjadinya
penyimpangan, penyelewengan, kelalaian, dan kelemahan untuk menghindari
kerugian yang tidak diinginkan.
D.4.4. Suatu usaha untuk memperbaiki
kesalahan dan penyelewengan, agar pelaksanaan pekerjaan tidak mengalami
hambatan dan pemborosan.
D.2. Macam-Macam Pengawasan
D.2.1. Pengawasan dari dalam
orgnisasi (Pengawasan Internal)
Adalah pengawasan yang dilakukan oleh
oleh aparat/unit pengawasan yang dibentuk dari dalam organisasi itu sendiri
(dalam satu atap). Aparat/unit pengawasan ini bertugas mengumpulkan data dan
informasi yang diperlukan oleh pimpinan untuk melihat dan menilaikemajuan atau
kemunduran dalam pelaksanaan pekerjaan. Selain itu pimpinan dapat mengambil
suatu tindakan korektif terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan
oleh bawahannya (internal control), misalnya unit kerja Inspektorat Jenderal
sebagai unit
pengawasan di tingkat departemen.
D.2.2. Pengawasan Luar Organisasi
(Pengawasan Ekstenal)
Adalah pengawasan yang dilakukan oleh
Aparat/Unit Pengawasan dari luar organisasi terhadap departemen (lembaga
pemerintah lainnya) atas nama pemerintah. Selain itu pengawasan dapat pula dilakukan
oleh pihak luar yang ditunjuk oleh suatu organisasi untuk minta bantuan
pemeriksaan/pengawasan terhadap organisasinya. Misalnya Konsultan Pengawas,
Akuntan swasta dan sebagainya.
D.2.3. Pengawasan Preventif
Pengawasan preventif adalah
pengawasan yang dilakukan sebelum rencana itu
dilaksanakan. Maksud pengawasan
preventif adalah untuk mencegah terjadinya
kekeliruan/kesalahan. Adapun dalam
pengawasan preventif yang dilakukan adalah :
D.2.3.1.Menentukan
peraturan-peraturan yang berlaku yang berhubungandengan sistem prosedur,
hubungan dan tata kerjanya.
D.2.3.2.Membuat pedoman/manual sesuai
dengan peraturan yang ditetapkan.
D.2.3.3.Menentukan kedudukan, tugas,
wewenang dan tanggung jawab.
D.2.3.4.Mengorganisasikan segala
macam kegiatan, penempatan pegawai dan pembagian pekerjaan.
D.2.3.5.Menentukan sistem koordinasi,
pelaporan dan pemeriksaan.
D.2.3.6.Memberikan sanksi-sanksi
terhadap pejabat yang menyimpang dari peraturan, sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
D.2.4. Pengawasan Represif
Pengawasan represif adalah pengawasan
yang dilakukan setelah adanya pelaksanaan pekerjaan. Maksud dilakukannya
pengawasan represif adalah untuk menjamin kelangsungan pelaksanaan pekerjaan
agar hasilnya tidak menyimpang dari yang telah direncanakan (dalam pengawasan anggaran
disebut post- audit).
D.2.4.1. Sistem Pengawasan Represif,
dibagi menjadi :
D.2.4.1.1. Sistem Komperatif, yaitu :
D.2.4.1.1.1. Mempelajari laporan
kemajuan pekerjaan
D.2.4.1.1.2. Membandingkan laporan
hasil-hasil pelaksanaan pekerjaan dengan rencana
D.2.4.1.1.3. Mengadakan analisa
terhadap perbedaan-perbedaan, temasuk pengaruh faktor lingkungan.
D.2.4.1.1.4. Memberikan penilaian
terhadap hasil pekerjaan termasuk para penanggung jawabnya.
D.2.4.1.1.5. Membuat suatu keputusan
untuk perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan pekerjaan.
D.2.4.2. Sistem Verifikatif, yaitu :
D.2.4.2.1.Menentukan
ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan prosedur pemeriksaan.
D.2.4.2.2.Membuat laporan secara
periodic terhadap hasil pemeriksaan.
D.2.4.2.3.Mempelajari laporan untuk
mengetahui perkembangan dari hasil pelaksanaan.
D.2.4.2.4.Mengadakan penilaian
terhadap hasil pelaksanaan.
D.2.4.2.5.Mengambil keputusan untuk
tindakan-tindakan perbaikan atau penyempurnaan.
D.2.4.3. Sistem Inspeksi
Inspeksi dimaksudkan untuk mengecek
kebenaran dari hasil laporan . selain itu
inspeksi bertujuan untuk memberikan
penjelasan-penjelasan terhadap kebijaksanaan pimpinan,dilakukan dengan rasa
kesetiakawanan, solidaritas dan morak yang tinggi.
D.2.4.4. Sistem Investigasi
Sistem ini lebih menitik beratkan
pada penyelidikan/penelitian yang lebih mendalam terhadap masalah-masalah yang
bersifat negatif. Hal ini karena dari hasil laporan masih bersifat hipotesa
(anggapan), laporan tersebut mungkin benar dan mungkin salah, oleh karena itu
perlu
diteliti lebih dalam untuk dapat
mengungkap hipotesis tersebut. Tahapan-tahapan yang dilakukan adalah
pengumpulan data, menganalisa/mengolah data dan penelitian terhadap data tersebut
(validitas data ). Kemudian dari hasil penelitian tersebut segera diambil keputusan.
D.3. Metode Pengawasan
D.3.1. Pengawasan Langsung,
adalah pengawasan yang dilakukan secara langsung pada lokasi pelaksanaan
pekerjaan (sistem inspektif, verifikatif dan investigasi).
D.3.2. Pengawasan tidak langsung,
adalah pengawasan yang dilakukan terhadap hasil-hasil laporan yang berupa
uraian kalimat, angka-angka atau statistic yang berupa gambar-gambar.
D.3.3. Pengawasan formal,
adalah pengawasan yang dilakukan secara formal oleh aparat/unit pengawasan
dilingkungan organisasi itu sendiri. Dalam pengawasan ini telah ditentukan prosedur,
hubungan dan tata kerjanya.
D.3.4. Pengawasan informal,
adalah pengawasan yang dilakukan pejabat/pimpinan dengan melalui kunjungan yang
tidak resmi (secara pribadi = secara incognito). Hal ini untuk menghindari
kekakuan antara atasan dan bawahan dan diharapkan terciptanya suatu keterbukaan
dalam memperoleh informasi dan pimpinanpun dapat langsung memberikan jalan keluar
bila ditemui maslah dalam pelakanaan pekerjaan.
D.3.5. Pengawasan administratif,
meliputi pengawasan bidang keuangan, kepegawaian dan materiil.
D.4. Prinsip-Prinsip Pengawasan
D.4.1. Berorientasi pada tujuan
organisasi
D.4.2. Pengawasan harus objektif,
jujur dan mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi
D.4.3. Pengawasan harus berorientasi
pada kebenaran menurut peraturan yang berlaku dan kebenaran atas prosedur yang
telah ditetapkan dan berorientasi pada tujuan (manfaat) dalam pelaksanaan
pekerjaan.
D.4.4. Pengawasan harus menjamin
hasil guna dan daya guna.
D.4.5. Pengawasan harus berdasarkan
standar yang objektif, teliti dan tepat.
D.4.6. Pengawasan harus terus
menerus.
D.4.7. Hasil peengawasan harus dapat
memberikan umpan balik (feed back) terhadap perbaikan dan penyempurnaan dalam
perencanaan dan kebijaksanaan di masa yang akan datang.
E. Staffing
Fungsi staffing dalam manajemen
diartikan sebagai suatu proses prosedur langkah demi langkah yang
berkesinambungan untuk menjaga agar organisasi selalu memperoleh orang orang yang
tepat dalam posisi yang tepat pada waktu yang tepat. Langkah-langkah tersebut antara
lain : (1).Perencanaan sumber daya manusia (SDM), (2).Pengadaan pegawai baru (rekrutmen
melalui seleksi), (3).Pemilihan dan penempatan, (4).Induksi dan Orientasi
(a.pemindahan, b.latihan dan
pengembangan,c.penilaian prestasi)
E.1. Perencanaan Sumber Daya Manusia
Langkah-langkah perencanaan sumber
daya manusia, yaitu :
E.1.1. Perencanaan untuk kebutuhan
masa depan
E.1.2. Perencanaan untuk keseimbangan
masa depan
E.1.3. Perencanaan untuk pengadaan
dan seleksi atau pemberhentian
E.1.4. Perencanaan untuk
pengembangan.
Untuk menyelesaikan langkah-langkah
ini ada 2 faktor yang pertimbangan, yaitu :
E.1.4.1.Rencana strategi, tujuan dan
sasaran serta taktik untuk membuat organisasi menjadi realistik yang akan
menentukan kebutuhan personil dan organisasi.
E.1.4.2.Perubahan-perubahan potensi
pada lingkungan luar, hal ini dapat berarti perubahan ketersediaan dana atau
tenaga kerja.
E.2. Pengadaan pegawai baru
(rekrutmen)
Dimaksudkan untuk menampung calon
yang cukup banyak untuk diadakan seleksi untuk mendapatkan calon pegawai yang
memenuhi syarat-sayarat administrasi secara umum.
Seleksi dapat dilakukan dalam 2
macam, yaitu seleksi umum (untuk kebutuhan tenaga yang bersifat umum) dan
seleksi khusus (untuk kebutuhan tenaga-tenaga spesialis/ahli dibidang tertentu).
Bagian terpenting dari pengadaan
adalah suatu pernyataan tentang kedudukan dari setiap pekerjaan (job
description/posision description), yang menguraikan mengenai nama,tugas dan
tanggung jawab dalam pekerjaan tersebut.
E.3. Pemilihan dan Penempatan
Jika telah ditentukan kualifikasi
untuk masing kedudukan pekerjaan maka selanjutnya adalah diadakan pemilihan (seleksi) melalui
tahapan-tahapan seleksi mulai test tertulis,kesehatan, test psikologi,
wawancara dan surat-surat pernyataan mengenai kesanggupan kerja dan lokasi
penempatan kerja.
E.4. Induksi dan Orientasi Induksi
dan orientasi mamberi kepada pegawai baru tentang :
E.4.1.Informasi umum tentang
pekerjaan sehari-hari
E.4.2.Tinjauan tentang sejarah,
lingkungan kantor, visi dan misi organisasi serta
pengembangan kemasa depan.
E.4.3.Informasi mengenai
kebijakan-kebijakan organisasi, aturan kerja dan hal-hal mengenai gaji dan
tunjangan.
E.5. Pemindahan Pemindahan terdiri
dari promosi, mutasi dan demosi
E.5.1. Promosi, adalah
memberikan tanggung jawab dan wewenang yang lebih besar kepada pegawai, dengan
kata lain promosi adalah kenaikan pangkat/jabatan yang lebih tinggi,merupakan
salah satu usaha untuk memajukan/mengembangkan pegawai. Dengan promosi dapat
memberikan pegawai hal-hal sebagai berikut :
E.5.1.1.Mendorong motivasi pegawai
E.5.1.2.Menaikan semangat/gairah
kerja pegawai
E.5.1.3.Menaikan moral dan efisiensi
pegawai
E.5.1.4.Wewujudkan orang yang tepat
pada jabatan yang tepat.
E.5.2. Mutasi, adalah
memindahkan pegawai dari jabatan yang satu ke jabatan yang lain dalam satu
tingkatan secara horizontal. Tujan mutasi adalah :
E.5.2.1. Untuk mewujudkan penempatan
pegawai pada posisi yang tepat
E.5.2.2. Untuk menghilangkan
kejenuhan dan kebosanan pada jabatan semula
E.5.2.3. Untuk menjamin kepercayaan
bahwa mereka tidak akan diberhentikan karena kurang cakap pada jabatan semula
E.5.2.4. Menciptakan lingkungan baru
yang mungking akan meningkatkan prestasi kerjanya
E.5.3. Demosi, adalah suatu
tindakan memberikan kekuasaan dan tanggung jawab yang lebih kecil, dengan kata
lain penurunan pangkat/jabatan karena dinilai kurang cakap dan kurang berprestasi
pada jabatan tersebut.
E.6. Latihan dan Pengembangan
Latihan dan pengembangan adalah suatu
pendekatan sistematik untuk memberikan kesempatan kepada pegawai untuk
mengembangkan diri memanfaatkan kekuatan dan kemampuan untuk keperluan
organisasi.
Beberapa pendekatan yang digunakan,
yaitu :
E.6.1. Pendekatan metode palatihan di
tempat kerja (on the job training), meliputi :
E.6.1.1. Rotasi, dimana pegawai dalam
jangka waktu tertentu bekerja pada serangkaian pekerjaan dengan berbagai
keterampilan.
E.6.1.2. Tugas belajar, mengikuti
pelatihan kerja dan pengajaran dalam kelas
E.6.1.3. Magang, dimana pegawai
dilatih dibawah bimbingan rekan kerja
yang lebih terampil.
E.6.2. Pendekatan metode palatihan di
luar tempat kerja (off the job training).
Metode pengembangan diluar tempat
kerja membebaskan mereka yang terus menerus berada ditempat kerja dan
memungkinkan untuk memusatkan pada tempat belajar, selain itu untuk mendapatkan
kesempatan bertemu dengan orang lain dan akan mendapatkan gagasandan pengalaman
baru yang bermanfaat.
E.7. Penilaian prestasi
Penilaian
prestasi adalah salah satu hal yang penting dalam pengorganisasian ,namun dalam
pelaksanaannya sangat sulit untuk melihat hasil yang memadai. Penilaian
prestasi dapat dibedakan dalam 2 macam, yaitu formal dan informal.
E.7.1.
Penilaian formal dilakukan setiap satu tahun sekali, dengan maksud :
E.7.1.1.Pegawai
mengetahui secara formal nilai prestasi yang diperoleh
E.7.1.2.Mengetahui
bawahan yang memerlukan latihan tambahan
E.7.1.3.Merupakan
bahan untuk identifikasi untuk promosi pegawai
E.7.2.
Penilaian informal dilakukan dari hari kehari dengan mengatakan kepada
pegawai tentang baik/buruknya pekerjaan yang dilakukan. Cara ini cepat
mendorong prestasi pegawai yang diinginkan dan untuk melakukan
perbaikan-perbaikan atas kesalahan sebelumnya.
BAB III
MACAM-MACAM MANAJEMEN
A.Manajemen Ilmiah (Scientific
management)
Manajemen Ilmiah adalah manajemen
yang berdasar ilmu, artinya yang dapat dikaji secara ilmiah, dianalisis dengan
menggunakan metode ilmiah dan dapat diperoleh suatu sintesis. Dikatakan
manajemen ilmiah karena dapat manajemen dapat dipelajari secara ilmiah di
tempat-tempat pendidikan (sekolah, penidikan tinggi atau tempat-tempat kursus).
Pelopor Manajemen Ilmiah adalah F.W. Taylor ( USA) dan H.Fayol (Perancis).
Mereka mencoba mengkaji/mempelajari
gerak perusahaan serta mencoba mengubah cara kerja dan cara berpikir di
kalangan perusahan. Kalau semula secara tradisional perusahaan digerakkan dan
dikendalikan oleh pemilik perusahaan itu sendiri, maka F.W. Taylor mengatakan
tidak harus digerakkan dan dikendalikan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham),
tetapi hendaknya dipimpin oleh orang-orang yang betul-betul mempunyai kecakapan
dan kemampuan serta pengalaman yang cukup. Maka F.W. Taylor mengubah
cara kerja dengan sistem gerak dan waktu (time and motion study). Ia
membuat daftar catatan yang harus dipergunakan oleh para pekerja, daftar
catatan itu berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan.
Standar
Kompetensi Standar Kompetensi
Taruna mengetahui dan memahami
tentang macam-macam manajemen:
manajemen ilmiah, manajemen
sistematika, manajemen terbuka, manajemen demokratis,manajemen tradisional dan
manajemen bapak.
Kompetensi
Dasar
Taruna mengetahui dan memahami serta
mampu menjelaskan : pengertian
manajemen ilmiah, manajemen
sistematika, manajemen terbuka, manajemen demokratis,manajemen tradisional dan
manajemen bapak.
Tujuan Mata Kuliah
Setelah selesai mengikuti pendidikan,
para lulusan dapat mengambil makna dan
dapat menerapkan serta membagi
pengetahuan tentang manajemen ilmiah, manajemen sistematika, manajemen terbuka,
manajemen demokratis, manajemen tradisional dan manajemen bapak.
Setiap gerak dalam proses produksi
dicatat secara cermat gerak dan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan.
B.Manajemen Sistematis
Manajemen Sitematis menunjukkan bahwa
segala sesuatu diatur secara sistematis, yaitu secara tertib, rapi dan teratur
dengan tujuan untuk menghindarkan hal-hal yang tidak dikehendaki. Dengan
perkataan lain, sebelum usaha/kegiatan berjalan segala sesuatu harus diperinci
dengan sematang-matangnya. Sehingga saat kegiatan pelaksanaan dimulai sampai dengan
tujuan yang diinginkan berjalan lancer dan menjadi kenyataan.
Penerapan manajemen ini dapat dilihat
pada operasi penerbangan, pelayaran dan sektor perhubungan lainnya. Segala
Sesuatu yang berkaitan dengan perjalanan telah dipersiapkan dengan sangat
terinci dan cermat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama
perjalanan.
C.Manajemen Terbuka (Open Management)
Manajemen Terbuka sering menimbulkan
salah pengertian, yang dimaksud dengan “terbuka “ di sini adalah di mana
pimpinan sebelum mengambil suatu keputusan terlebih dahulu memberi kesempatan
kepada staf dan bawahannya untuk memberikan saran-saran, ide-ide atau
pendapat-pendapat, namun keputusan tetap ditentukan oleh pimpinan. Kesempatan
untuk memberikan masukan-masukan kepada pimpinan dengan tujuan agar para staf
atau bawahan
ikut serta memikirkan
kesulitan-kesulitan yang dihadapi organisasi dan ikut serta pula memecahkannya
temasuk mengembangkan organisasi.
Ditinjau dari pengertian positip
dimana segala sesuatu yang dilakukan oleh pimpinan harus dikontrol oleh staf
atau bawahannya, hal ini karena biasanya dalam setiap jabatan pasti ada yang
bersifat rahasia dan tidak boleh terbuka. Dengan sifat keterbukaan ini yaitu
dengan diberikan kesempatan untuk mengemukakan gagasan-gagasan,
pendapat-pendapat atau saran-saran dapat menimbulkan kegairahan, apalagi kalau
gagasan-gagasan, pendapatpendapat
atau saran-saran dapat diterima dan
digunakan, maka yang mempunyai ide tersebut akan merasa senang. Selain itu akan
tibul suatu kompetisi yang sehat berlomba untuk mengembangkan inisiatif dan
daya kreasi.
D.Manajemen Demokratis
Yang dimaksud dengan demokratis di
sini adalah mengarah ke demokrasi Pancasila, yang termaktub dalam Preambule
Undang-Undang Dasar 1945 dimana dalam Demokrasi Pancasila disebutkan “Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”
serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia.
Jadi para staf dan bawahan bukan
sekedar menyumbangkan pemikiran , prakarsa serta petimbangan semata, tetapi
ikut serta menentukan keputusan atas dasar musyawarah untuk mupakat.
E.Manajemen
tradisional.
Manajemen Tradisional adalah
manajemen yang digunakan dengan sistem kerja dan cara berpikir mengikuti
cara-cara zaman dahulu dan bahkan sampai masa sekarang ini masih ada yang
menggunakannya. Manajemen tradisional biasanya digunakan turun temurun, tidak ada
kreasi, monoton dan tidak dinamis.
F. Manajemen Bapak
Dikatakan “manajemen bapak “, karena
dalam setiap usaha/kegiatan dari organisasi selalu mengikuti jejak bapak
(pimpinan), apa yang dikatakan bapak itulah yang benar. Untuk manajemen semacam
ini terdapat aspek baik buruknya. Kebaikannya adalah kalau pemimipin tetap
pada proporsi yang sebenarnya dan berlaku objektif, pekerjaan dapat
dilaksanakan dengan cepat sesuai tujuan organisasinya. Keburukannya adalah
kalau bapaknya berlaku tidak baik, maka bawahannyapun akan berlaku seperti
bapaknya, maka lambat laun
perusahaan/organisasinya akan hancur.
Keburukan lainnya adalah kalau kalau bapaknya sudah mampu memimpin dan diganti
dengan bapak yang baru (tidak mengikuti cara lama) ,maka akan mengalami
hambatan dalam memimpin bawahannya.
BAB IV
K E P E M I M P I N A N
A.Arti dan Pentingnya Kepemimpinan
A.1. Arti Kepemimpinan
Kerberhasilan dari suatu organisasi
tergantung pada banyak faktor. Faktor yang penting adalah dampak dari
kepemimpinan dalam organisasi, karena seorang pemimpin harus berperan sebagai
organisator kelompoknya untuk mencapai tujuan yang telah digariskan organisasi.
Kepemimpinan didefinisikan sebagai
seni atau proses untuk mempengaruhi dan
mengarahkan serta menggerakkan orang
lain agar mereka mau berusaha/bekerja untuk mencapai tujuan yang hendak
dicapai.
Dari berbagai studi tentang ciri-ciri
kepemimpinan yang pernah dilakukan ditunjukkan bahwa seorang pemimpin memiliki
cirri fisik, intelegensi dan kepribadian yang lebih menonjol dibandingkan
dengan seorang yang bukan pemimpin. Pada umumnya fisik seorang pemimpin lebih
kuat, lebih tinggi besar, lebih percaya diri, terbuka, mudah menyesuaikan diri,
antusias,
Standar
Kompetensi
Taruna mengetahui dan memahami
tentang: Kepemimpinan, arti kepemimpinan,
pentingnya kepemimpinan, gaya
kepemimpinan, faktor-faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan dan arti
motivasi
Kompetensi
Dasar
Mahasiswa
mengetahui dan memahami serta mampu menjelaskan arti kepemimpinan dan
pentingnya kepemimpinan, menjelaskan gaya-gaya kepemimpinan dan factor-faktor yang
mempengaruhi gaya kepemimpinan serta menjelaskan arti motivasi
Tujuan Mata Kuliah
Setelah selesai mengikuti pendidikan,
para lulusan dapat mengambil makna dan dapat menerapkan serta membagi
pengetahuan tentang kepemimpinan dan pentingnya kepemimpinan, gaya-gaya
kepemimpinan dan faktor-faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan serta
motivasi
mempunyai dorongan untuk berprestasi,
mempunyai inisiatif, mampu bekerja sama dan berhubungan dengan orang lain.
A.2. Pentingnya Kepemimpinan
Dari pengertian kepemimpinan tampak
bahwa seorang pemimpin bertugas mendorong bawahannya untuk bekerja guna
mencapai tujuan. Jadi tugas kepemimpinan itu melibatkan kemampuan seseorang
untuk mempengaruhi orang.
A.3. Fungsi-fungsi Utama Pemimpin
Ada dua fungsi utama dari seorang
pemimpin, yaitu : (1).Fungsi pemecahan masalah dan (2). Fungsi Sosial
A.3.1. Fungsi pemecahan masalah
Fungsi ini berhubungan dengan tugas
seorang pemimpin dengan pekerjaan yang
mencakup memberikan jalan keluar dari
suatu masalah, memberikan pendapat dan inforamasi.
A.3.2. Fungsi Sosial
Fungsi social berhubungan dengan
kehidupan kelompoknya yang mencakup
mendorong anggota kelompok untuk
mencapai tujuan dan menjaga suasana kelompok.
B.Gaya-gaya Kepemimpinan
Menurut Stoner ada dua gaya
kepemimpinan yang biasa digunakan oleh seorang
pemimpin dalam mengarahkan dan
mempengaruhi bawahannya, yaitu :
B.1. Gaya kepemimpinan yang
berorientasi pada tugas
Dalam gaya kepemimpinan ini seorang
pemimpin akan mengarahkan dan mengawasi bawahannya agar bekerja sesuai dengan
yang diharapkan pemimpinnya. Kepemimpinan gaya ini lebih mengutamakan
keberhasilan dari pekerjaan yang hendak dicapai dari pada perkembangan
kemampuan bawahannya.
B.2. Gaya kepemimpinan yang
berorientasi pada pekerja.
Gaya kepemimpinan ini berusaha
mendorong an memotivasi pekerjanya untuk bekerja dengan baik. Para pekerja
diikutsertakan dalam mengambil keputusan yang menyangkut tugas.
Dengan demikian hubungan pekerja dan
atasannya dapat terjaga dengan baik, saling percaya dan saling mempercayai.
Menurut Koontz, O’Donnell dan
Weihrich, gaya kepemimpinan dapat digolongkan berdasarkan cara pemimpin
dengan menggunakan kekuasaannya, antara lain :
B.3. Otokratik, pemimpin
dipandang sebagai orang yang memberi perintah dan yang dapat menuntut,
keputusan ada ditangan pemimpin.
B.4. Demokratik atau Partispatif,
pemimpin dipandang sebagai orang yang tidak akan melakukan suatu kegiatan tanpa
mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan bawahannya. Jadi pemimpin mengikut sertakan pendapat
bawahannya sebelum mengusulkan suatu kegiatan atau keputusan.
B.5. Free Rein, mengemukakan
bahwa pemimpin sebaiknya hanya menggunakan sedikit kekuasan saja dan memberi
banyak kebebasan pada bawahannya untuk menentukan tujuan perusahaan dan cara
untuk mencapainya. Pemimpin hanya berfungsi sebagai fasilitator melalui pemberian
informasi dan sebagai orang yang berhubungan dengan kelompok lain.
Seorang pemimpin yang efektif tidak
ditentukan oleh gaya atau tipe kepemimpinan yang digunakan dalam memimpin
kelompok, tetapi tergantung pada cara menerapkan tipe/gaya kepemimpinan
tersebut pada situasi yang sesuai. Ada kemungkinan pemimpin akan menjadi sangat
otokratik pada situasi darurat. Dilain pihak seorang pemimpin lembaga
penelitian akan memberi kebebasan kepada peneliti-peneliti untuk melakukan
eksperimen, tetapi mungkin agak otokratik bila para peniltinya menggunakan
bahan kimia secara sembarangan.
B.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
Gaya Kepemimpinan
Robert Tannenbaun dan
Warren H.Schmidt berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya
kepemimpinan , antara lain :
B.6.1. Ciri Pemimipin, dapat
dilihat dari latar belakang pendidikan, pengalaman masa lalunya,nilai-nilai
yang dipegangnya. Misalnya sorang pemimpin yakin bahwa kebutuhan-kebutuhan organisasi adalah yang utama daripada
kebutuhan-kebutuhan individu, akan sangat mengarahkan kegiatan bawahannya.
B.6.2. Ciri Bawahan, Seorang
pemimpin akan memberikan kebebasan atau mengikut sertakan bawahannya dalam
mengambil keputusan apabila bawahannya menpunyai pengetahuan dan pengalaman
cukup untuk mengatasi masalah secara efektif. Apabila bawahan memahami seluruh
tujuan organisasi, mempunyai pengetahuan dan pengalaman untuk memecahkan
masalah , maka pemimpin akan cenderung bersikap demokratik dan akan
mengikutsertakan bawahannya dalam
memimpin. Tetapi apabila bawahan tidak mempunyai kemampuan tersebut, maka
pemimpin akan bergaya otoriter.
B.6.3. Ciri Organisasi, seorang
pemimpin akan menentukan gaya kepemimpinannya berdasarkan iklim organisasi,
sikap pekerja organisasi.
Dari hasil studi Robert Tannenbaun
dan Warren H.Schmidt, banyak peneliti yang berusaha mencari faktor-faktor
yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan, antara lain :
B.6.3.1. Diri Pemimpin, yaitu
: Kepribadian, pengalaman masa lalu, latar belakang dan harapan pemimpin sangat
mempengaruhi efektivitas kepemimpinan di samping mempengaruhi gaya kepemimpinan
yang dipilihnya.
B.6.3.2. Ciri Atasan Pemimipin,
Gaya kepemimpinan dari atasan pemimpin sangat mempengaruhi orientasi pemimpin
B.6.3.3 Ciri Bawahan, respon
yang diberikan bawahan akan menenetukan efektivitas kepemimpinan.ar belkang
pendidikan bawahan sangat menetukan pula cara pemimpin menentukan gaya
kepeimipinannya.
B.6.3.4. Persyaratan tugas, Tuntutan
tanggung jawab pekerjaan bawahan akan mempengaruhi gaya kepemimpinan.
B.6.3.5. Iklim Organisasi dan
Kebijakan, akan mempengaruhi harapan dan perilaku anggota kelompok dan gaya
kepemimpinan yang dipilih.
B.6.3.6. Perilaku dan Harapan
Rekan Sekerja Pemimpin, Rekan sekerja yang setingkat pemimpin merupakan acuan yang penting, segala
pendapat yang diberikan oleh rekan-rekan sangat menpengaruhi efektivitas hasil
kerja pemimpin.
B.7. Kesimpulan dari urian di atas
bahwa ada 3 unsur dalam situasi kerja yang
mempengaruhi gaya kepemimpinan, yaitu
:
B.7.1. Hubungan antara pemimpin dan
bawahan;
B.7.2. Struktur tugas;
B.7.3. Kedudukan kekuasan pemimpin.
C. M o t i v a s i
C.1. Arti Motivasi
Istilah motivasi mencakup dua
pengertian :
C.1.1. Suatu aktivitas yang
dilaksanakan para pimpinan
Memotivasi (to motivate) berarti
tindakan dari seseorang yang ingin mempengaruhi orang lain untuk berprilaku
secara tertentu. Motivasi adalah aktivitas manajemen untuk mempengaruhi
bawahannya untuk bertindak secara organisatoris dengan cara tertentu untuk menghasilkan
hasil-hasil yang efektif
C.1.2. Dorongan psikis seseorang
Suatu dorongan psikis dari dalam diri
seseorang yang menyebabkan ia berprilaku secara tertentu, terutama di dalam
suatu lingkungan pekerjaan. Namun motivasi bukan satusatunya yang berhubungan
dengan prestasi, ada dua faktor yang menyebabkan yaitu kemampuan dan persepsi
tentang perannya.
C.2. Model-model Motivasi
C.2.1. Model Tradisional
Model motivasi tradisonal, dipelopori
okeh F. Taylor, mengemukakan bahwa aspek yang penting dari tugas pimpinan
adalah memastikan bahwa para pekerja menjalankan tugas mereka dengan
berulang-ulang dan membosankan dengan cara yang paling efisien. Dengan menggunakan sistem insetif , pimpinan
dapat memotivasi bawahannya. Makin banyak yang diproduksi makin besar
penghasilannya. Dalam banyak situasi pendekatan ini efektif. Dengan
tercapainya efisiensi lebih sedikit pekerja yang
dibutuhkan untuk tugas tertentu, sesudah beberapa lama berlangsung pimpinan
mengurangi besarnya insentif, pemecatan menjadi biasa dan para pekerja lebih
mencari keamanan
kerja dari pada sekedar peningkatan gaji yang sedikit bersifat sementara.
C.2.2. Model Hubungan Manusia
Elton Mayo dan
peniliti hubungan manusia lainnya menemukan bahwa kontak-kontak sosial antara
karyawan selama waktu kerja penting. Tugas yang membosankan dan berulang ulang dengan sendirinya
mengurangi motivasi. Elton Mayo percaya bahwa pimpinan dapat memotivasi
bawahannya dengan memberikan kesempatan akan kebutuhan sosialnya itu,karyawan
mendapat kebebasan untuk mengambil keputusan dalam pekerjaan.
C.2.3. Model Sumber Daya Manusia
Perintis model sumber daya manusia
adalah Mc Gregor dn Maslow, menurut kedua ilmuwan tersebut banyak faktor
untuk memotivasi karyawan, bukan hanya dengan uang,keinginan atau kepuasan,
tetapi juga kebutuhan akan pencapaian dan pekerjaan yang berarti,dengan
prestasi kerja yang baik karyawan telah memperolah kepuasan.
Karyawan lama diberikan tanggung
jawab yang lebih besar untuk membuat keputusan
dalam menjalankan tugas mereka,
pimpinan harus membagi tanggung jawab untuk mencapai sasaran organisasi,
masing-masing individu diberikan kontribusi atas dasar minat dan kemampuannya.

REFFENCE:
DASAR-DASAR
MANAGEMENT
Dari
James A.F.Stoner.Burt Scanlan & J.Bernard Keynes,Management and
organization behavior
John
Wiley,Inc,Canada.79.
Danil
A.Wren.The Evolution of Management,BY John Wiley & Sons,Inc,New York,1979
Scientifif Management F.W. Tavlir, Harper,New York ,1974
Henry Fayol,General and Industrial Management,London.
James D.Money,The Principles of Organization, Harper &
Brothers Publisers,New York. 1974.
Chaster I Bernard,The Functions of Executive,Harvard
University.press.Cambridge, Mass .1938.
Hugo Munsterberg,Psychology and Industrial
Effeciency,Houghton Miffin.New York, 1913.

No comments:
Post a Comment